Ramadan, Bulan Panen Pahala 

Oleh Muthmainnah Kurdi, S. Ag.

Alhamdulillah. Ramadan kembali menyapa, sudah 10 hari menghampiri setiap keluarga muslim. Suasana kehangatan iman pun makin terasa. Merdu bersahutan suara azan, tadarus Al Qur’an, shalat tarawih, juga aneka makanan berbuka yang dijajakan, makin menyemarakkan euforia suasana Ramadan. Bulan Ramadan tahun ini jatuh pada tahun 1446 Hijriah atau bertepatan tahun 2025 Miladiah (Masehi).

Keistimewaan Ramadan

Ramadan merupakan bulan yang di dalamnya penuh dengan limpahan pahala, ampunan, kemuliaan, keberkahan, keutamaan, dan tingginya jawul (suasana) keimanan. Maka, telah masyhur sejak kali pertama disyariatkan, Ramadan menjadi magnet besar bagi mukmin yang ingin mencurahkan effort-nya (usahanya) untuk totalitas beribadah kepada Allah Swt.

Ramadan juga dipilih Allah Swt. sebagai bulan dibelenggunya setan, ditutup pintu neraka, dan dibukanya pintu-pintu surga. MasyaAllah, begitu besarnya keistimewaan bulan Ramadan.

Bukan saja nilai ibadah yang dilipatgandakan pahalanya, tetapi Allah Swt. juga mengistimewakan Ramadan dengan adanya peristiwa-peristiwa sarat hikmah yang terjadi di dalamnya. Juga, Allah Swt. menjadikan dua bulan sebelumnya sebagai bulan yang mulia.

Adalah Rajab dan Syakban, dua bulan mulia yang Allah Swt. abadikan dalam kitab suci Al-Qur’an, “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At Taubah: 36).

Keistimewaan dua bulan Rajab dan Syakban, termaktub dalam berbagai hadis. Di antaranya terdapat dalam hadis Nabi saw. berikut,

“Bulan Rajab adalah bulan Allah yang besar dan bulan kemuliaan, di dalam bulan ini perang dengan orang kafir diharamkan. Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku”.

Sedangkan Syakban, adalah bulan Rasulullah Saw. tersebab Beliau Saw. memfokuskan segenap ghirah ibadah lebih banyak di bulan tersebut sebagai persiapan ibadah di bulan Ramadan. Seperti memperbanyak ibadah puasa. Sebagaimana terdapat dalam hadis riwayat Bukhari no.1969,

“… Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban.”

Ramadan Bulan Edukasi

Kewajiban mengerjakan ibadah puasa terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 183,

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Jika mencermati redaksi terjemahan ayat di atas, dijumpai pengkhususan perintah puasa hanya untuk hamba-Nya yang beriman. Imanlah yang mendorong setiap muslim ihlas mengerjakannya. Jika seorang muslim tidak berpuasa, berarti tak ada ikatan iman yang mendorongnya.

Iman inilah yang menjadi faktor utama setiap muslim mengerjakan berbagai kewajiban yang disyariatkan. Iman muncul dari naluri tadayun (beragama) yang dibina dengan edukasi yang benar. Edukasi dini berasal dari keluarga, kemudian pendidikan di jenjang sekolah juga lingkungan (masyarakat).

Dengan iman dan edukasi yang benar, muncullah ghirah tinggi mengerjakan berbagai perintah agama, juga dalam mengerjakan ibadah selama Ramadan, siangnya menjadi muslim produktif, dan menghidupkan malam dengan ibadah. Seperti, tilawah, zikir, shalawat, serta bermajelis ilmu.

Oleh karena itu, menjadi krusial (penting) edukasi yang sahih dan kontinyu. Hal itu hanya dimiliki oleh sistem Islam. Suasana keimananlah yang menjadi amunisinya, bersemangat memanen pahala dengan berbagai amalan ibadah.

Islam tidak akan berhenti mengedukasi umat, dengan menerapkan kewajiban menuntut ilmu. Demikian juga dalam menyikapi datangnya bulan Ramadan, kesadaran kehadirannya sudah dipupuk sejak dua bulan sebelumnya, yakni bulan Rajab dan Syakban.

Ilmu sahih harus dimiliki setiap muslim, dengannya manusia berada di koridor yang benar. Dengan ilmu pulalah, muslim mengetahui keutamaan nilai ibadah, mustahil lalai dan menyia-nyiakan.

Ramadan Bulan Panen Pahala

Ramadan bulan yang berlimpah berkah, bulan yang di dalamnya satu kebaikan dilipatgandakan pahalanya, bulan qarra (pembaca Al-Qur’an), bulan berbagi, dan bulan mengkaji ilmu agama. Seperti pesantren Ramadan di sekolah dan instansi, juga sebagai bulan menjalin ukhuwah yang sudah mentradisi yakni, buka bersama. Biasanya antar-keluarga, antar-teman sejawat, antar-alumni sekolah, dan sebagainya.

Ramadan sebagai bulan memanen pahala, menjadi salah satu penyemangat bagi muslim yang mengerjakan ibadah puasa juga ibadah lain di dalamnya. Rida Allah Swt. tentu yang utama. Mendulang pahala adalah hal yang juga dikabarkan Rasulullah saw. sebagai balasan bagi siapa saja yang mengerjakan ibadah.

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat.. .” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151).

Begitu besarnya pahala yang diberikan atas amal kebaikan di bulan Ramadan, agar setiap muslim saling berlomba-lomba meraihnya. Mungkin, ibadah di luar bulan Ramadan kurang optimal. Maka, Ramadan menjadi momen tepat untuk menggantinya dengan ibadah terbaik.

Karenanya, tidak heran jika ada beberapa masjid yang sepanjang malam Ramadan mengumandangkan tilawah Al-Qur’an, sebagian ada yang berzikir mendekatkan diri pada Sang Khalik hingga berakhirnya bulan Ramadan. Semua demi rida dan balasan pahala kebaikan dari Allah Swt.

Momen memanen pahala hanya sekali dalam setahun, bulan Ramadan telah disyariatkan menjadi waktunya. Seyogianya, setiap muslim memanfaatkannya, mengisinya dengan berbagai amalan.

Ramadan, Momen Terciptanya Jawul Iman

Harusnya, Ramadan menjadi momen menutup aurat, menutup tempat-tempat maksiat, menghentikan pergaulan yang dilaknat, mendalami ilmu agama, mengaji dan mengkaji, berbagi, menyayangi para duafa, shalat ke masjid, dan melakukan kebaikan-kebaikan. Ya, potret suasana keimanan di atas hanya tercipta saat Ramadan.

Sayangnya, sistem yang berlaku saat ini meniscayakan kondisi di atas. Suasana semangat taat pada Allah hanya sesaat, kemudian hilang berlalu terhegemoni liarnya sekularisme. Akan tetapi, dengan kehadiran sistem Islam suasana keimanan akan mewujud sepanjang hari, bulan dan sepanjang tahun kehidupan.

Kita merindukan Ramadan dengan jawul iman yang senantiasa tercipta. Semoga Ramadan tahun ini menjadi momen terciptanya suasana keimanan yang sesungguhnya, hingga berlanjut di bulan-bulan berikutnya, dengan menjadikan Islam sebagai asasnya.

Kuy, kita maksimalkan Ramadan yang tinggal 20 hari lagi ini, dengan ibadah-ibadah yang berkualitas, penuh semangat dan keikhlasan. Semoga Allah Swt. berikan kita keberkahan dan ampunan. Aamiin.

Wallahua’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *