Ramadan, Momen Membentuk Habit Kebaikan

Oleh Muthmainnah Kurdi, S. Ag.

Alhamdulillah. Atas kehendak-Nya juga, saat ini kita bisa kembali merasakan kehangatan dan khusuknya bulan agung Ramadan. Walaupun tidak lama lagi, Ramadan akan pergi kembali. Setidaknya, ia telah meninggalkan jejak kebaikan pada diri setiap kita, yang seharusnya menjadi habit untuk kemudian dijadikan kebiasaan setelah usai Ramadan.

Bagi kita, Ramadan kali ini bisa jadi sudah yang ke 20 atau 30 atau 25, 40 atau 50 kalinya. Sejatinya, bukan sesering apa kita melewatinya namun, bagaimana kita mengisinya dengan berbagai amal kebaikan yang kita maksimalkan sesuai kadar kemampuan, tentu juga dengan ghirah (semangat) yang tinggi. Untuk itu, sebelum datang Ramadan seyogyanya, kita sudah paham berbagai ilmu pengetahuan seputar ibadah Ramadan.

Misalnya, mengetahui esensi dari bulan Ramadan untuk kita, lalu memaksimalkan berbagai ibadah sepanjang bulan tersebut. Agar jika Ramadan sudah berlalu berbagai ibadah selama Ramadan bisa menjadi habit, kebiasaan baik yang terus dikerjakan dan membentuk diri menjadi insan bertakwa.

Sebagaimana tujuan dari perintah mengerjakan puasa itu sendiri yakni, agar menjadi hamba bertakwa, terpelihara diri untuk tetap mengerjakan perintah-Nya dan juga meninggalkan larangan-Nya, sebagaimana terdapat dalam terjemah surat Al-Baqarah 183.

Menurut HAMKA (H.Abdul Karim Amrullah), takwa diartikan sebagai pelaksanaan dari iman dan amal saleh. Jadi, amal-amal yang dikerjakan serius sepanjang bulan Ramadan sejatinya, merupakan wujud dari takwa itu sendiri juga implikasi tabiat baik yang terbentuk dari habit Ramadan.

Karena, Ramadan ibarat sekolah besar yang menumbuhkan habit- habit kebaikan, dan dalam membentuk habit baik selama Ramadan itu, butuh latihan kontinu dan serius. Sebagaimana penelitian membuktikan bahwa, jika kita terus menerus melakukan suatu aktifitas lebih dari 16 kali maka, aktifitas tersebut akan menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan. Artinya, aktivitas itu sudah menjadi habit.

Coba, renungkan kembali ibadah apa saja yang sudah kita kerjakan sepanjang Ramadan ini? Shalat sunahkah, tilawah Al-Qur’annya, sedekahnya atau amal lainnya.

Mengutip pendapat ustaz Felix Y. Siauw, ada beberapa rumus yang kudu dilakukan dalam membentuk habit kebaikan yaitu, learn (pembelajaran), commit
(komitmen practice dan latihan), dan repetition (pengulangan).

Maka, Ramadan adalah waktu paling tepat membentuk habit kebaikan. Tiga puluh hari kurang lebihnya, cukup untuk melatihnya. Terpenting, dari habit itu bisa menjadi hal yang luar biasa, menjadi kebiasaan setelah usai Ramadan.

Kini, Ramadan hampir usai. Pergi meninggalkan kita. kesedihan pasti ada di setiap benak kita. Mengingati belum maksimalnya ibadah. Namun, kita masih bisa melanjutkan habit baik yang sudah terbentuk, agar terpancar dalam seluruh aktivitas di luar Ramadan, dan agar ibadah puasa serta amal amal yang dilakukan membentuk kita, menjadi insan yang takwa.

Takwa dalam setiap keadaan. Dari bangun tidur, bangun rumah tangga, dan bangun negara.
Dan setelah keluar dari Ramadan, menjelma menjadi insan dengan kepribadian yang lebih baik. Ibarat seekor ulat yang bermetaformosis sempurna, menjadi kupu kupu yang indah. Begitulah sejatinya, habit baik dari ibadah Ramadan, membentuk kita, menjadi insan yang lebih baik pribadinya bertambah taatnya.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *