Dunia menyaksikan dan merasakan, gemuruh takbir menggema di penjuru Makkah juga di seantero bumi. Effort jutaan jamaah haji terpusat di Padang Arafah, menyatu di bawah tinggi langit-Nya, tak ada beda suku, bangsa dan tahta. Namun sayangnya, potret persatuan itu hanya terjadi setahun sekali yakni, pada momen ibadah haji. Sungguh ironi, disaat bersamaan di berbagai belahan bumi terjadi kesenjangan, kebencian, perpecahan dan permusuhan.
Makna Haji dan Keutamaannya
Ibadah haji merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam, menjadi salah satu sendi akidahnya, karena merupakan salah satu rukun Islam. Menyitir pernyataan sejarawan yang pernah mendapatkan julukan ‘Predator’ (penulis, trainer, editor), ustadz Salman Iskandar menerangkan “Ibadah haji merupakan tabiat para Nabi dan Rasul, yang telah mendapatkan undangan khusus dari Allah SWT.” Masih menurut beliau, muslim yang sudah mampu namun belum juga melaksanakan ibadah haji, sejatinya ia belum mendapatkan undangan khusus dari Allah Swt. urainya dalam NGAJI SUBUH. Episode 1827.
Faktanya memang demikian. Tidak sedikit kaum muslim yang mampu secara finansial, dan sehat fisiknya namun, tidak juga melaksanakan rukun Islam kelima tersebut. Sebaliknya, ada muslim yang kehidupannya pas-pasan namun, sanggup menunaikan ibadah haji. Itulah makna qarinah tersembunyi dari ‘telah mendapatkan undangan khusus dari Allah SWT.’ Masya Allah.
Selanjutnya, menurut cendekiawan muslim ustadz Ismail Yusanto, bahwa makna penting dari ibadah haji adalah meneladani Nabi Ibrahim as dan keluarganya, dalam mentaati Allah. Taat dengan keimanan yang penuh dan sebenar-benarnya, walaupun perintah-Nya seperti tidak masuk akal. Sedangkan puncak ibadah haji saat wukuf di Padang Arafah adalah tauhid dengan berbagai implikasinya (MNews.7/6 2025).
Implikasi dari puncak ibadah haji adalah, menerapkan ketaatan dari spirit ibadah haji dalam seluruh kehidupannya. Jika sebelumnya tidak shalat, ia menjadi rajin shalat, kalau sebelumnya tidak menutup aurat menjadi menutup aurat, kalau sebelumnya membela sekularisme, menjadi pejuang dan pembela hukum Islam. Dan seterusnya.
Disamping itu, dibalik makna haji tersimpan kedahsyatan keutamaannya yakni, besarnya pahala yang telah Allah Swt. janjikan bagi jamaah haji yang mendapatkan ibadah haji
mabrur (diterima). Sebagaimana termaktub dalam hadits berikut:
“Haji yang mabrur itu tidak ada balasan (bagi pelaku)-nya selain surga”. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini sekaligus menunjukkan, betapa besarnya keutamaan menunaikan kewajiban rukun Islam tersebut, yang juga menjadi simbol ketaatan paripurna seorang hamba.
Haji, Simbol Persatuan
Ibadah haji selain sebagai simbol ketaatan seorang Muslim juga, sebagai simbol persatuan universal. Karena, telah menyatukan kaum Muslim dari seluruh belahan dunia. Tidak ada perbedaan ras, bahasa, bangsa dan kuasa. Mereka mengenakan pakaian yang sama (ihram), melakukan ritual ibadah yang sama, berdoa dan menyembah kepada Tuhan yang sama.
Hanya saja, potret persatuan yang menggelora itu, biasanya akan meredup setelah jamaah haji kembali ke negerinya masing-masing. Sebab, yang nampak adalah umat Islam yang terpecah-belah oleh batas-batas nasionalisme dan negara-bangsa (nation-state). Akibatnya, harapan persatuan hakiki umat Islam sedunia, seolah jauh panggang dari api.
Haji dan Persatuan Hakiki
Jutaan muslim dari berbagai bangsa berkumpul di Tanah Suci untuk berhaji, menunjukkan persatuan yang melampaui sekat bangsa, ras, dan bahasa.
Persatuan umat Islam tidak didasari kesamaan budaya atau etnis, melainkan disatukan oleh aqidah Islam yang menghapus segala perbedaan duniawi.
Umat Islam yang berjumlah hampir 2 miliar akan menjadi kekuatan dunia yang disegani jika bersatu, bukan tercerai karena sekat nasionalisme dan golongan.
Persatuan saat Idul Adha seringkali hanya sesaat saja, selepas itu, umat kembali tercerai dan bahkan saling bermusuhan, melupakan penderitaan saudara seiman (misal. Palestina) dan di berbagai penjuru dunia.
Persatuan sejati hanya dapat terwujud dalam institusi politik Islam global yakni, Khilafah yang menyatukan umat dalam satu tubuh dan tujuan.
Ibadah haji, mengajarkan ketaatan mutlak kepada Allah, dan seharusnya mendorong umat untuk patuh sepenuhnya pada aturan Islam, bukan hanya pada aspek ibadah ritual, tapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Semoga dengannya, akan hilang segala sekat dan Keterpecahan.
Wallahu a’lam.













