Belajar dari Kasus Raya: Pelayanan Kesehatan Tanggung Jawab Negara

BANYUASIN, MERAHPUTIHNEWS.CO.ID -Baru-baru ini, viral di media sosial video yang memperlihatkan anak bernama Raya asal Sukabumi, Jawa Barat, yang tubuhnya dipenuhi infeksi cacing. Rekaman CT scan dibagikan lembaga sosial Rumah Teguh yang menangani kasus ini. Cacing sepanjang 15 sentimeter, keluar dari tubuh Raya dan telah menginfeksi ke organ vital, pernapasan, hingga otak (beritasatu.com, 20/08/2025).

Raya lahir dari kondisi orang tua dengan keterbatasan ekonomi dan mental. Sehari-hari, Raya sering bermain di kolong rumah panggung yang kotor dan dipenuhi kotoran ayam. Hal inilah yang menjadikan Raya kurang mendapat perhatian dan pengasuhan. Raya akhirnya dievakuasi oleh tim Rumah Teduh ke rumah sakit. Meski demikian, jalan untuk mengobatinya cukup susah karena terhambat persoalan administrasi. Raya tidak memiliki identitas yang jelas, tidak ada kartu keluarga ataupun BPJS.

Kesehatan: Jauh dari Harapan

Sungguh ironi. Adanya kasus Raya membuktikan bahwa pelayanan kesehatan belum mampu memberikan jaminan kesehatan terbaik. Pelayanan kesehatan sering kali terganjal sistem administrasi yang ribet dan berbelit-belit. Hal ini nampak pada Yayasan Runah Teduh yang menangani Raya, dimana para relawan “dilempar” sana-sini untuk mengurus administrasi. Dari Dinas Sosial (Dinsos) Kota ke Dinsos Kabupaten sampai juga ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten dan diarahan lagi ke Kabid Limjansos, dari Kabid Limjansos dioper lagi ke Dinkes (kilat.com, 19/07/2025).

Selain itu apa yang dialami Raya menunjukkan abainya negara dalam melindungi rakyat miskin. Raya hidup dalam kondisi memprihatinkan, tidak memenuhi standar kesehatan, maupun jaminan sosial. Padahal, Ayah Raya hidup dalam kondisi sakit-sakitan, dan ibunya adalah Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Kasus ini justru baru mendapat perhatian setelah viral dan mencuat di media sosial. Artinya, negara minim upaya pencegahan dan perlindungan pada rakyat kecil.

Selain tidak adanya upaya pencegahan, kasus Raya juga terjadi akibat penerapan sistem kapitalisme. Sistem ini menjadikan kesehatan sebagai komoditas, bukan hak yang harus dipenuhi oleh setiap warga negara. Saat ini, layanan kesehatan dijadikan sekadar profit (keuntungan) semata. Alhasil, rakyat yang harus berjuang sendiri untuk mendapatkan kesehatan gratis, dengan memenuhi beragam administrasi. Jika tidak, maka rakyat harus membayar biaya layanan kesehatan yang harganya tidak murah.

Kapitalisme juga meniscayakan siapapun yang memiliki uang banyak, bisa mendapatkan layanan kesehatan terbaik. Ketimpangan begitu terbuka lebar, bagi si miskin ia harus berjuang sendiri. Negara dalam sistem ini sekadar regulator dalam urusan kesehatan. Negara tidak memastikan setiap individu rakyat mendapat layanan kesehatan.

Islam: Menjamin Kesehatan Rakyat

Sesungguhnya, Islam menjadikan kesehatan bukanlah komoditas bisnis, melainkan hak rakyat. Kesehatan merupakan kebutuhan dasar bagi rakyat. Artinya, setiap individu wajib terpenuhi layanan kesehatannya.

Dengan demikian, dalam mewujudkan layanan kesehatan ini dibutuhkan peran negara. Islam memandang, negara adalah penanggung jawab kehidupan rakyat.

Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin (raa’in) dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR Bukhari).

Dalam memastikan pemenuhan layanan kesehatan ini, Islam mewujudkan upaya pencegahan dan penanggulangan. Upaya pencegahan di antaranya: edukasi, vaksinasi, penerapan pola hidup sehat, sanitasi, memastikan makanan yang tersedia halal dan juga thayib. Sementara untuk upaya penanggulangan, negara dalam sistem Islam memastikan tenaga kesehatan, fasilitas, juga memastikan ketersediaan alat, dan obat-obatan.

Luar biasanya di dalam Islam, pelayanan kesehatan ini untuk semua orang tanpa administrasi yang ribet. Dananya dari mana? Sumber pendanaannya dari kas Baitulmal, sumber pemasukannya jelas yakni dari ghanimah, fa’i, kharaj, pos kepemilikan umum, dan lain-lain. Negara yang akan mengelola pos kepemilikan ini, dan hasilnya diperuntukan bagi rakyat.

Telah tercatat dalam sejarah peradaban Islam, terwujud pelayanan kesehatan yang terbaik. Para khalifah membangun rumah sakit yang berkualitas. Salah satu contoh adalah Bimaristan al-Manshuri di Kairo, Mesir, rumah sakit ini didirikan dengan melayani kesehatan gratis untuk semua kalangan, tanpa memandang si kaya maupun miskin. Bahkan, Bimaristan ini akan memberikan pakaian, dan uang saku kepada pasien, sebagai pengganti jumlah penghasilannya karena sakit. Maasyaa Allah.

Sesungguhnya, jika kita melihat catatan sejarah, ketika mekanisme Islam diterapkan hak rakyat akan terpenuhi. Hal ini berbeda jauh dengan realitas hari ini, ketika rakyat kecil seperti kasus Raya harus viral dulu baru mendapatkan perhatian. Jangan sampai ada korban Raya berikutnya, akibat minimnya upaya pencegahan dan penanggulangan kesehatan dari negara.

Penulis: Ismawati Editor: Deni Arianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *