“Aku adalah budak/hamba bagi siapapun yang mengajarkan ilmu kepadaku, walau hanya satu huruf”.
Kutipan di atas bersumber dari sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. menggambarkan tentang tingginya rasa khormat, dan adab kepada seorang guru. Namun sayang, hari ini guru yang gelarnya mulia tersebut tercoreng karena sikap murid yang tidak pantas.
Sebuah video viral di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa terlihat mengejek, hingga melakukan gestur acungan jari tengah kepada guru. Kejadian tersebut terjadi di SMA Negeri 1 Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Aksi ini dilakukan oleh sembilan belas siswa, dipicu karena perubahan giliran presentadi di mata pelajaran PKN (beritasatu.com, 20/04/2026).
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Dinas Pendidikan Jawa Barat bersama pihak sekokah menjatuhkan sanksi kepada siswa. Sanksi tersebut berupa kegiatan sosiak selama 3 bulan seperti membersihkan lingkungkungan sekolah dan masyarakat. Meski sang guru mengaku sudah memaafkan muridnya, namun peristiwa ini tetap menjadi perhatian besar bahwa krisis adab dan moral masih menghantui generasi kita.
Generasi Niradab
Fenomena siswa yang merendahkan guru ini bukan sekadar kenakalan remaja, melainkan telah rusak sistem moral dan adab generasi. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat membentuk kepribadian mulia, justru kerap terjebak pada transfer ilmu semata, tanpa menanamkan ruh penghormatan kepada ilmu dan ahlinya.
Dalam sistem sekuler hari ini, pendidikan dipisahkan dari nilai-nilai agama. Akibatnya, standar benar-salah menjadi relatif, dan jauhnya generasi dari nilai agama. Guru tidak lagi dipandang sebagai sosok yang dimuliakan karena ilmunya, tetapi sekadar ‘pekerja’ dalam sistem pendidikan.
Di sisi lain, sistem pendidikan kapitalistik juga berorientasi pada hasil (nilai, ranking, materi), bukan pada pembentukan kepribadian. Guru dibebani target administratif, sementara pembinaan akhlak sering terpinggirkan. Bahkan, posisi guru kerap dilemahkan oleh regulasi yang membuat mereka takut menegur atau mendisiplinkan siswa.
Terlebih, kejadian niradab pada guru ini kerap berulang. Sebelumnya juga pernah terjadi kasus pengeroyokan guru oleh siswa di SMKN 3 Tanjungjabung Timur (Tanjabtim) (liputan6.com, 20/01/2026). Tak hanya itu, guru di Sekolah Dasar (SD) di wilayah Pamulang, Tangerang Selatan, Christiana Budiyati, dilaporkan ke polisi setelah menasihati murid-muridnya (metrotvnews.com, 28/01/2026).
Demikianlah, sistem kapitalisme membentuk generasi kaya intelektual, tetapi niradab kepada gurunya. Kejadian yang terus berulang ini menunjukkan bahwa butuh koreksi serius sistem pendidikan. Pendidikan haruslah mampu melahirkan generasi yang tak hanya cakap materi, tetapi juga baik secara moral dan adabnya.
Pendidikan dalam Islam
Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk syakhshiyah islamiyah (kepribadian Islam). Ilmu selalu terkait dengan iman, dan adab menjadi pondasi utama.
Rasulullah saw. bersabda:
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda serta tidak mengetahui hak ulama (orang berilmu).” (HR. Ahmad)
Dalam sistem Islam, sejak awal anak dididik dengan akidah yang kuat. Mereka tidak hanya diajarkan pelajaran umum, tapi juga ditanamkan kesadaran bahwa ilmu itu mulia, dan orang yang mengajarkannya juga harus dimuliakan. Jadi menghormati guru bukan sekadar norma sosial, tapi bagian dari ketaatan kepada Allah. Dari sini saja sudah terbentuk benteng dalam diri siswa bahwa merendahkan guru adalah sesuatu yang salah, bukan karena aturan sekolah, tapi karena nilai iman.
Guru di dalam Islam benar-benar dimuliakan. Negara tidak hanya menuntut mereka mengajar, tapi juga memastikan kesejahteraan dan kehormatan mereka terjaga. Kalau pun terjadi pelanggaran, Islam tidak membiarkannya berlalu begitu saja. Ada sanksi yang diberikan, tapi tujuannya bukan sekadar menghukum. Sanksi itu mendidik, membuat siswa sadar, sekaligus memberi efek jera. Jadi ada keseimbangan antara kasih sayang dan ketegasan.
Yang juga penting, pendidikan dalam Islam tidak hanya dibebankan ke sekolah. Keluarga dan masyarakat punya peran besar. Orang tua menanamkan adab sejak kecil, sementara lingkungan sekitar juga menjaga nilai-nilai kebaikan. Jadi anak tidak hidup dalam dua dunia yang berbeda di sekolah diajarkan hormat, tapi di luar justru melihat sebaliknya. Oleh karena itu, butuh koreksi total sistem pendidikan yang outputnya tidak hanya kaya ilmu, tetapi juga jadi generasi yang beriman dan bertakwa.













