MUSI BANYUASIN (MUBA), MERAHPUTIHNEWS.CO.ID – Efektivitas operasi penertiban minyak ilegal (illegal drilling dan illegal refinery) oleh tim gabungan di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) kembali dipertanyakan publik. Meski sejumlah operasi telah digelar dan dikabarkan menertibkan puluhan sumur serta pondok penyulingan, faktanya mobil-mobil tangki pengangkut minyak hasil sulingan dari kawasan Sungai Angit dan sekitarnya masih bebas melintas di jalan-jalan utama, bahkan dikawal oleh oknum-oknum tertentu, Rabu (08/07/2026)
Publik menilai bahwa operasi yang selama ini dilakukan terkesan hanya formalitas atau “panggung sandiwara” semata. Hal ini terlihat dari aktivitas distribusi minyak ilegal yang tidak surut, bahkan kian berani menembus wilayah kabupaten tetangga seperti Banyuasin.
Beberapa indikator yang menunjukkan kegagalan operasi gabungan tersebut antara lain:
1. Distribusi Masih Lancar: Truk-truk tangki modifikasi yang membawa minyak mentah atau hasil sulingan masih kerap terlihat melintas di siang hari, seolah-olah tidak ada rasa takut terhadap aparat penegak hukum.
2. Rentetan Kebakaran Berulang: Seperti dilaporkan sebelumnya, insiden kebakaran di lokasi refinery ilegal terus terjadi di Kecamatan Babat Toman, Sanga Desa, dan Bayung Lincir sepanjang Juni hingga Juli 2026. Jika operasi penertiban benar- benar efektif, fasilitas ilegal tersebut seharusnya sudah dibongkar total dan tidak bisa beroperasi kembali dalam hitungan hari.
3. Adanya Dugaan “Payung” Proteksi: Maraknya peredaran minyak ilegal yang dikawal oleh oknum berseragam, termasuk dugaan keterlibatan oknum TNI dan Polri, semakin menguatkan asumsi bahwa ada oknum aparat yang “bermain” di balik layar.
Aktivis lingkungan dan masyarakat setempat menyayangkan sikap aparat yang seolah-olah tutup mata terhadap kejahatan migas yang merusak lingkungan dan membahayakan nyawa ini.
“Operasi gabungan yang sering digaungkan itu sepertinya hanya untuk konsumsi media saja. Setelah foto-foto bersama dan rilis pers, minyak ilegal tetap mengalir deras. Bahkan truk-truknya lewat di depan mata petugas tanpa ditindak,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Kebuntuan komunikasi dengan jajaran pimpinan Polres Banyuasin saat mencoba mengonfirmasi adanya pengawalan oknum TNI terhadap truk minyak ilegal di Pangkalan Balai beberapa waktu lalu, semakin menambah kecurigaan publik.
Masyarakat mendesak Kapolda Sumatera Selatan dan Kapolres Muba untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja satuan di bawahnya. Publik menuntut agar tidak hanya pekerja lapangan atau pemilik modal kecil yang dijadikan tersangka, tetapi juga para “bandar” besar dan oknum aparat yang melindungi mereka harus diusut tuntas.
Jika negara terus membiarkan praktik ini berjalan, bukan hanya kerugian negara dari sisi pajak dan migas yang terjadi, tetapi juga bencana lingkungan dan korban jiwa akibat ledakan atau kebakaran akan terus berulang. Operasi penertiban haruslah bersifat permanen dan destruktif terhadap sarana produksi ilegal, bukan sekadar penertiban sesaat yang mudah disiasati oleh para pelaku.













