Operasi Gabungan Penertiban Minyak Ilegal di Muba Dinilai “Panggung Sandiwara”, Truk Pengangkut BBM Ilegal Masih Merajalela

Oplus_131072

MUSI BANYUASIN (MUBA), MERAHPUTIHNEWS.CO.ID – Efektivitas operasi penertiban minyak ilegal (illegal drilling dan illegal refinery) oleh tim gabungan di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) kembali dipertanyakan publik. Meski sejumlah operasi telah digelar dan dikabarkan menertibkan puluhan sumur serta pondok penyulingan, faktanya mobil-mobil tangki pengangkut minyak hasil sulingan dari kawasan Sungai Angit dan sekitarnya masih bebas melintas di jalan-jalan utama, bahkan dikawal oleh oknum-oknum tertentu, Rabu (08/07/2026)

Publik menilai bahwa operasi yang selama ini dilakukan terkesan hanya formalitas atau “panggung sandiwara” semata. Hal ini terlihat dari aktivitas distribusi minyak ilegal yang tidak surut, bahkan kian berani menembus wilayah kabupaten tetangga seperti Banyuasin.

Beberapa indikator yang menunjukkan kegagalan operasi gabungan tersebut antara lain:

1. Distribusi Masih Lancar: Truk-truk            tangki modifikasi yang membawa              minyak mentah atau hasil sulingan            masih kerap terlihat melintas di siang      hari, seolah-olah tidak ada rasa takut        terhadap aparat penegak hukum.

2. Rentetan Kebakaran Berulang: Seperti      dilaporkan sebelumnya, insiden                kebakaran di lokasi refinery ilegal              terus terjadi di Kecamatan Babat                Toman, Sanga Desa, dan Bayung                 Lincir sepanjang Juni hingga Juli                 2026. Jika operasi penertiban benar-         benar efektif, fasilitas ilegal tersebut         seharusnya sudah dibongkar total             dan tidak bisa beroperasi kembali             dalam hitungan hari.

3. Adanya Dugaan “Payung” Proteksi:            Maraknya peredaran minyak ilegal            yang dikawal oleh oknum                            berseragam, termasuk dugaan                    keterlibatan oknum TNI dan Polri,              semakin menguatkan asumsi bahwa        ada oknum aparat yang “bermain” di        balik layar.

Aktivis lingkungan dan masyarakat setempat menyayangkan sikap aparat yang seolah-olah tutup mata terhadap kejahatan migas yang merusak lingkungan dan membahayakan nyawa ini.

“Operasi gabungan yang sering digaungkan itu sepertinya hanya untuk konsumsi media saja. Setelah foto-foto bersama dan rilis pers, minyak ilegal tetap mengalir deras. Bahkan truk-truknya lewat di depan mata petugas tanpa ditindak,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Kebuntuan komunikasi dengan jajaran pimpinan Polres Banyuasin saat mencoba mengonfirmasi adanya pengawalan oknum TNI terhadap truk minyak ilegal di Pangkalan Balai beberapa waktu lalu, semakin menambah kecurigaan publik.

Masyarakat mendesak Kapolda Sumatera Selatan dan Kapolres Muba untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja satuan di bawahnya. Publik menuntut agar tidak hanya pekerja lapangan atau pemilik modal kecil yang dijadikan tersangka, tetapi juga para “bandar” besar dan oknum aparat yang melindungi mereka harus diusut tuntas.

Jika negara terus membiarkan praktik ini berjalan, bukan hanya kerugian negara dari sisi pajak dan migas yang terjadi, tetapi juga bencana lingkungan dan korban jiwa akibat ledakan atau kebakaran akan terus berulang. Operasi penertiban haruslah bersifat permanen dan destruktif terhadap sarana produksi ilegal, bukan sekadar penertiban sesaat yang mudah disiasati oleh para pelaku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *