Pilu, Tragedi Anak Bunuh Ibu: Potret Suram Game Online dan Kerapuhan Keluarga

Pilu. Rasanya sulit membayangkan nyawa seorang ibu dihabisi di tangan anaknya sendiri. Kejadian tragis tersebut mengguncang masyarakat Medan, Sunggal, Sumatera Utara. AI (12) tega membunuh ibu kandungnya sendiri FS (42), pada 10 Desember 2025.

Kepolisian mengungkap motif pembunuhan ini adalah rasa dendam dan amarah pelaku pada ibunya. Korban sering memarahi, memaki, bahkan melakukan kekerasan fisik terhadap anak-anaknya. AI mengungkap bahwa dirinya sering dicubit ibunya, dan kakaknya dipukul dengan sapu dan tali pinggang. Korban juga pernah menghapus game online milik pelaku (edisimedan.com, 11/12/2025).

Tak hanya itu, hubungan kedua orang tua pelaku juga dinilai tak harmonis. Korban sering mengancam suami dan anak-anaknya dengan pisau. Tekanan psikologis inilah yang membuat AI sempat berpikir untuk melukai ibunya sejak 22 November 2025.

Dampak Game Online

Game online sejatinya memberikan ancaman bahaya pemikiran bagi para penikmatnya. Hal ini diungkapkan oleh Aktivis Muslimah, Iffah Ainur Rochmah yang menyebut bahaya game online berupaya ancaman bahaya fisik dan pemikirannya. Pemikiran masyarakat, khususnya anak-anak dipengaruhi oleh apa yang ditontonnya.

Selain itu, sering kali Deputi Perlindungan Khusus Anak KPPPA Nahar mengatakan game online bisa berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Apalagi jika dalam game tersebut terdapat konten kekerasan, seperti adu senjata, kekerasan fisik, bahasa kasar, atau tindakan brutal lainnya. Sebagaimana dalam kasus ini, AI terinspirasi dalam salah satu adegan di game, serta scene dalam sebuah film anime. Demikianlah pengaruh tontonan bisa menjadi tuntunan.

Disharmoni Keluarga

Kasus ini juga menggambarkan betapa bahayanya disharmoni keluarga. Menurut penelitian, orang tua yang kerap bertengkar di depan anak memberikan dampak psikologis yang luar biasa. Anak bisa mengalami stres, kecemasan, gangguan tidur, penurunan kepercayaan diri, masalah perilaku (agresif/pendiam), penurunan, hingga krisis mental jangka panjang sepertu depresi, putus asa, dan lain-lain.

Inilah yang dialami pelaku AI, dampak psikologis akibat disharmoni keluarga menjadi tekanan bagi diri AI. Sistem sekuler telah memisahkan agama dari kehidupan, termasuk dalam pengasuhan keluarga, pendidikan, dan pengaturan media. Akibatnya, keluarga kehilangan fungsi utamanya sebagai madrasah pertama yang menanamkan keimanan, kasih sayang, dan ketakwaan. Individu pun menjalani kehidupan tanpa tuntunan syariat, mudah meluapkan emosi, melakukan kekerasan.

Solusi Sistemik

Solusi sistemik atas kasus ini tidak cukup berhenti pada imbauan moral, konseling psikologis, atau pembatasan usia bermain game semata. Islam memandang persoalan ini sebagai akibat dari rusaknya sistem kehidupan yang diterapkan, yakni sistem sekuler kapitalisme yang menyingkirkan agama dari pengaturan kehidupan manusia. Dalam sistem ini, negara abai terhadap kewajiban membina akidah masyarakat, membiarkan industri hiburan dan media berorientasi keuntungan semata, sekalipun merusak pola pikir dan perilaku generasi.

Islam sebagai ideologi memiliki seperangkat aturan menyeluruh yang mampu mencegah tragedi serupa dari hulu. Dalam Islam, keluarga dibangun atas dasar akidah dan tanggung jawab syar’i. Orang tua diposisikan sebagai pendidik utama yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah atas amanah anak-anaknya. Kekerasan dalam rumah tangga bukanlah perkara sepele, melainkan kezaliman yang diharamkan. Rasulullah saw. mencontohkan pola pengasuhan yang penuh kasih sayang, dialog, dan keteladanan, bukan hardikan apalagi kekerasan fisik.

Di sisi lain, Islam mewajibkan negara berperan aktif sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi rakyatnya. Negara dalam sistem Islam tidak akan membiarkan konten media, game, dan tontonan bebas tanpa kontrol. Seluruh produk informasi dan hiburan akan disaring berdasarkan standar halal-haram, bukan standar pasar. Konten yang mengandung kekerasan, pornografi, dan perusakan akhlak akan dicegah sejak awal, karena negara menyadari dampak besarnya terhadap pembentukan kepribadian generasi.

Pendidikan pun dalam Islam tidak sekadar mentransfer ilmu, tetapi membentuk kepribadian Islam yang menjadikan halal-haram sebagai tolok ukur perbuatan. Anak-anak dibekali akidah yang kuat, sehingga mampu mengelola emosi, menghadapi masalah, dan mencari solusi tanpa melampiaskannya dengan kekerasan. Lingkungan masyarakat pun dibangun dalam suasana amar makruf nahi mungkar, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Dengan demikian, pilu seperti pembunuhan ibu oleh anak bukanlah sekadar kesalahan individu atau pengaruh game semata, melainkan buah pahit dari sistem kehidupan yang rusak. Islam menawarkan solusi ideologis yang menyeluruh, mulai dari pembinaan individu, penguatan keluarga, hingga peran negara yang tegas dan bertanggung jawab. Hanya dengan penerapan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, generasi akan terlindungi, keluarga akan kembali harmonis, dan masyarakat terjaga dari tragedi kemanusiaan yang memilukan.

Penulis: Ismawati Editor: Deni Arianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *