BANYUASIN, MERAHPUTIHNEWS.CO.ID – Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Banyuasin, Nabila Askolani Putri, bersama Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Banyuasin, Marisa Utami Erwin Ibrahim, menyambut hangat kunjungan kerja Ketua TP-PKK Provinsi Sumatera Selatan, Hj. Febrita Lustia Herman Deru, di Kabupaten Banyuasin, pada Rabu (10/06/2026).
Agenda utama kunjungan ini difokuskan pada tinjauan langsung terhadap program pembinaan kemandirian warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuasin. Rombongan meninjau secara khusus proses produksi batik khas Banyuasin yang dikembangkan oleh para warga binaan di dalam lapas.
Hj. Febrita Lustia Herman Deru menyampaikan apresiasi tinggi atas kreativitas dan keterampilan yang ditunjukkan oleh para warga binaan. Menurutnya, karya batik yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai seni yang tinggi, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi yang menjanjikan bagi masa depan mereka.
“Hasil karya ini menunjukkan bahwa program pembinaan di lapas mampu memberikan kesempatan bagi warga binaan untuk mengembangkan kemampuan dan meningkatkan kepercayaan diri. Ini adalah langkah positif menuju reintegrasi sosial,” ujar Febrita di lokasi kunjungan.
Ia menekankan bahwa pelatihan keterampilan seperti membatik merupakan bekal vital bagi warga binaan untuk membangun kemandirian setelah bebas dan kembali ke tengah masyarakat. Dengan keterampilan yang mumpuni, mantan narapidana diharapkan dapat membuka peluang usaha mandiri atau setidaknya memperoleh pekerjaan yang layak, sehingga mengurangi risiko residivisme.
Selain memberikan apresiasi, Ketua TP-PKK Sumsel juga memberikan masukan strategis untuk pengembangan batik Banyuasin. Ia mendorong para pembina dan warga binaan untuk terus berinovasi, salah satunya dengan memanfaatkan bahan pewarna alami sebagai alternatif pengganti pewarna sintetis.
Febrita mengakui bahwa biaya produksi menggunakan pewarna alami memang relatif lebih tinggi dan prosesnya lebih rumit. Namun, ia menilai hal tersebut sebanding dengan peningkatan kualitas dan nilai jual produk.
“Penggunaan pewarna alami mampu memberikan identitas yang lebih kuat bagi batik khas Banyuasin. Konsumen saat ini semakin sadar akan produk ramah lingkungan dan eksklusif. Ini bisa menjadi selling point utama batik Banyuasin di pasar nasional maupun internasional,” jelasnya.
Kunjungan ini menjadi bentuk nyata dukungan TP-PKK Provinsi Sumatera Selatan terhadap program pembinaan keterampilan di Lapas Banyuasin. Harapannya, upaya ini dapat mendorong lahirnya produk lokal yang berdaya saing, bernilai ekonomi tinggi, serta memberikan manfaat ganda: memberdayakan warga binaan dan menggerakkan industri kreatif di Kabupaten Banyuasin.
Turut hadir mendampingi rombongan dalam kunjungan tersebut adalah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Selatan serta jajaran pejabat terkait di lingkungan Pemkab Banyuasin.













