Pacaran Merusak Kehormatan Generasi

Kasus memilukan yang menimpa seorang mahasiswi di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau menjadi peringatan keras bagi generasi muda. Mahasiswi tersebut diduga menjadi korban kekerasan hingga meninggal dunia yang dilakukan oleh laki-laki yang memiliki hubungan dekat dengannya. Peristiwa tragis ini mengguncang publik karena terjadi di lingkungan mahasiswa yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya intelektualitas dan akhlak. Namun kenyataannya, relasi tanpa ikatan yang sah justru dapat berujung pada konflik, kekerasan, bahkan hilangnya nyawa.

Kasus ini membuka mata kita tentang rusaknya hubungan lawan jenis yang tidak berada dalam koridor syariat. Ketika hubungan dilandasi kedekatan emosional tanpa ikatan yang sah, maka rasa memiliki yang berlebihan mudah muncul. Dari sana, cemburu, sakit hati, dan emosi yang tidak terkendali sangat mudah berkembang. Jika emosi tersebut tidak mampu dikelola, konflik kecil bisa berubah menjadi pertengkaran besar yang berujung pada tindakan kekerasan.

Sebab Liberalisme

Inilah potret budaya liberalisme yang menjerat generasi muda hari ini. Pacaran dianggap sesuatu yang wajar, bahkan dipromosikan sebagai bagian dari gaya hidup anak muda. Banyak yang meyakini bahwa pacaran adalah proses “penjajakan” sebelum menuju pernikahan. Padahal dalam kenyataannya, hubungan semacam ini sering kali tidak memiliki batas yang jelas dan justru membuka pintu pada berbagai bentuk kemaksiatan.

Selanjutnya, yang sering luput dari perhatian, pacaran justru lebih banyak merugikan pihak perempuan. Perempuan sering menjadi pihak yang paling rentan secara emosional dan sosial. Dalam banyak kasus, perempuan menaruh perasaan yang lebih dalam sehingga lebih mudah tersakiti ketika hubungan berakhir. Tidak sedikit pula perempuan yang mengalami tekanan mental, manipulasi emosional, bahkan kekerasan dari pasangan yang mengatasnamakan cinta.

Lebih dari itu, dalam hubungan pacaran perempuan sering berada pada posisi yang tidak aman. Rasa sayang perempuan berbeda dengan laki-laki. Perempuan kerap menuruti berbagai permintaan pasangan, meskipun melanggar batas-batas syariat. Ruang aman perempuan kian menyempit, tatkala dihadapkan dengan persoalan kekerasan dibalut pacaran. Belum lagi jika pacaran berujung zina, maka yang menjadi korban terburuk adalah perempuan.

Inilah sebab liberalisme yang terus dipelihara. Generasi makin jauh dari aturan Islam dan berbuat sesuai hawa nafsunya sendiri. Alhasil, kerusakan makin terjadi dari generasi karena tidak memahami hukum dan aturan dalam kehidupan.

Banyak anak muda berpacaran karena menganggap itu hal yang normal. Lingkungan pergaulan, media sosial, film, dan budaya populer menggambarkan pacaran sebagai sesuatu yang romantis dan wajib dialami. Akibatnya, yang tidak pacaran justru dianggap aneh atau ketinggalan zaman. Inilah cara pandang liberalisme yang menempatkan generasi muda dalam gaya hidup bebas.

Islam Melarang Pacaran

Dalam Islam, pacaran bukanlah konsep yang dibenarkan. Allah Swt. secara tegas memerintahkan agar manusia tidak mendekati zina sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Isra ayat 32. Larangan ini bukan hanya terhadap zina itu sendiri, tetapi juga segala jalan yang mengarah kepadanya. Pacaran merupakan salah satu pintu yang dapat mengantarkan ke arah tersebut. Dalam praktiknya, pacaran sering melibatkan khalwat (berdua-duaan), ungkapan perasaan tanpa batas, hingga hubungan yang melampaui batas syariat.

Sesungguhnya syariat Islam hadir sebagai penjaga kehormatan manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Interaksi antara lawan jenis diatur agar tetap berada dalam batas yang jelas: tidak berkhalwat, tidak bercampur baur tanpa kebutuhan syar’i, serta tidak saling mengumbar perasaan yang dapat membangkitkan syahwat. Semua aturan ini bukan untuk mengekang kebebasan manusia, melainkan untuk melindungi kehormatan dan keselamatan mereka.

Islam juga menawarkan solusi yang jelas dan bermartabat dalam menyalurkan fitrah cinta, yaitu melalui pernikahan. Jika seseorang telah siap secara fisik, mental, dan finansial, maka menikah adalah jalan terbaik untuk membangun hubungan yang halal dan penuh tanggung jawab. Dalam pernikahan, hubungan antara laki-laki dan perempuan tidak lagi sekadar permainan perasaan, tetapi dilandasi komitmen dan tanggung jawab yang jelas.

Namun jika belum mampu menikah, Islam memerintahkan umatnya untuk menjaga diri. Generasi muda dianjurkan untuk menundukkan pandangan, memperbanyak ibadah, serta menyibukkan diri dengan aktivitas yang bermanfaat seperti menuntut ilmu dan berkarya. Lingkungan pergaulan yang baik juga sangat penting agar seseorang tidak terjerumus pada hubungan yang merugikan.

Karena itu, sudah saatnya generasi muda berani mengatakan, jangan pacaran. Pacaran bukanlah tanda kedewasaan, apalagi ukuran kemajuan berpikir. Justru kedewasaan terlihat dari kemampuan seseorang menjaga kehormatan diri dan menaati aturan Allah SWT.

Seorang muslim yang meyakini Allah sebagai pencipta sekaligus pengatur kehidupan akan memahami bahwa memilih pasangan tidak perlu melalui pacaran. Ia akan menjaga hatinya agar cinta tumbuh kepada orang yang tepat, dan disampaikan dengan cara yang tepat pula, melalui jalan yang diridhoi Allah.

Jika belum siap menikah, maka pilihan terbaik adalah memperbaiki diri. Menuntut ilmu, memperluas wawasan, serta membangun pergaulan yang sehat dan positif. Dengan demikian, generasi muda dapat terhindar dari berbagai kerugian atas nama cinta, sekaligus menjaga masa depan yang lebih bermartabat.

Semoga kita senantiasa terhindar dari perbuatan maksiat sekecil apapun itu. Jika belum mampu, mari sibukkan dirimu pada kebaikan, yakni banyak menuntut ilmu Islam, berkumpul bersama circle sahabat yang salih atau salihah. Circle ini akan membuatmu sibuk mendekatkan diri kepada Allah, dan menjadikan dirimu terus memantaskan diri untuk jodoh terbaik pilihan Allah Swt.

Penulis: Ismawati (Mahasiswi STAI Publisistik Thawalib Jakarta)Editor: Deni Arianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *