Ramadan: Momentum Kembali Mendekat kepada Al-Qur’an

Bulan Ramadan bukan sekadar bulan ibadah ritual seperti menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, Ramadan adalah momentum besar bagi umat Islam untuk kembali memperbaiki hubungan dengan Al-Qur’an. Bulan ini memiliki kedudukan istimewa karena di dalamnya Allah menurunkan kitab suci sebagai petunjuk hidup manusia.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an,

  •  “Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185).

Ayat ini menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya tentang puasa, tetapi juga tentang kedekatan dengan Al-Qur’an. Karena itulah, sejak zaman Rasulullah, para sahabat menjadikan Ramadan sebagai bulan untuk memperbanyak tilawah dan tadabbur. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Malaikat Jibril datang setiap Ramadan untuk menyimak bacaan Al-Qur’an Rasulullah.

Dunia Tak Lagi Bermakna

Namun realitas kehidupan sering kali membuat manusia lalai. Kesibukan dunia, pekerjaan, popularitas, dan harta terkadang membuat seseorang merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Manusia sering kali baru tersadar ketika dihadapkan pada ujian yang mengguncang hidupnya.

Salah satu yang menjadi perhatian kita adalah kabar meninggalnya penyanyi Indonesia, Vidi Aldiano, di bulan Ramadan menjadi pengingat bagi banyak orang tentang rapuhnya kehidupan manusia. Semasa hidupnya, Vidi pernah membagikan pengalaman spiritual yang cukup menyentuh ketika menghadapi penyakit yang dideritanya.

Dalam sebuah podcast yang sempat viral di media sosial, ia menceritakan bagaimana penyakit membuatnya melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Ia mengungkapkan bahwa ketika seseorang memiliki banyak uang, properti, dan popularitas, semuanya terasa membanggakan. Namun saat penyakit datang, semua itu seolah runtuh dan tidak lagi memiliki arti.

Menurutnya, ketika tubuh sedang sakit dan tidak mampu menikmati hidup, kekayaan yang selama ini dikumpulkan terasa tidak ada gunanya. Pengalaman tersebut membuatnya memandang penyakit bukan hanya sebagai ujian, tetapi juga sebagai pengingat untuk kembali kepada Allah.

Ungkapan tersebut sesungguhnya sejalan dengan pesan Islam tentang hakikat kehidupan dunia. Allah mengingatkan bahwa dunia hanyalah tempat sementara, bukan tujuan akhir manusia.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

  • “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64).

Ayat ini menggambarkan betapa dunia sering kali membuat manusia terlena. Padahal, ketika musibah datang seperti sakit atau kematian manusia baru menyadari bahwa semua yang bersifat materi tidak dapat menyelamatkannya.

Bulan Muhasabah

Karena itulah Ramadan hadir sebagai momentum muhasabah atau introspeksi diri. Bulan ini memberi kesempatan kepada manusia untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan kembali menata hubungan dengan Allah.

Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan dengan Al-Qur’an. Tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga memahami maknanya dan berusaha mengamalkan pesan-pesannya dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah kesibukan hidup modern, sering kali manusia menjadikan Al-Qur’an hanya sebagai bacaan sesekali. Padahal kitab suci ini diturunkan sebagai pedoman hidup yang seharusnya membimbing manusia dalam setiap langkahnya.

Kisah kehidupan seorang Vidi Aldiano setidaknya bisa mengajarkan kita bahwa manusia tidak pernah benar-benar tahu kapan hidupnya berakhir. Ujian sakit yang dideritanya setidaknya bisa menjadi alarm bahwa kehidupan ini tidaklah lama. Tidak ada yang bisa menjamin kebahagiaan maupun keselamatan seseorang. Meskipun ia di dunia memiliki popularitas, kekayaan, dan banyak sekali pencapaian.

Oleh karena itu, bulan ramadan seharusnya tidak boleh berlalu begitu saja dalam diri kita. Bulan ini harus menjadi pijakan perubahan, yakni kesempatan untuk kembali kepada Allah dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan kita. Tidak perlu menunggu sakit, atau datangnya musibah untuk bisa sadar. Tapi, masih diberikan kesempatan beribadah di bulan Ramadan sudah cukup menjadi pengingat untuk kita semua.

Sungguh, ketika kita sudah berpulang, semua capaian duniawi akan kita tinggalkan, teman kita ada hanyalah iman dan amal salih. Di bulan ramadan inilah waktunya. Kembali menata hati, memperbaiki ibadah, dan menghidupkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Ismawati (Mahasiswi STAI Publisistik Thawalib Jakarta)Editor: Deni Arianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *