Banyuasin Ke-24 Tahun: Transformasi Epik dari Lumbung Pangan Nasional Menuju Produsen Bio-Avtur Pertama di Dunia

PANGKALAN BALAI, MERAHPUTIH WES.CO.ID – Memasuki usia ke-24 tahun, Kabupaten Banyuasin tidak hanya merayakan kematangan administratif, tetapi juga memproklamirkan sebuah transformasi ekonomi yang revolusioner. Jika dua dekade lalu Banyuasin dikenal semata-mata sebagai “Lumbung Pangan Nasional” berkat luasnya lahan pertanian dan perkebunan, kini di usia seperempat abad, Banyuasin bersiap mencatatkan sejarah dunia sebagai lokasi produksi Bio-Avtur (Sustainable Aviation Fuel/SAF) pertama yang terintegrasi secara komersial.

Momen HUT ke-24 ini menjadi simbol peralihan paradigma pembangunan daerah: dari ketergantungan pada komoditas mentah menuju industri hilir bernilai tambah tinggi dan ramah lingkungan. Bupati Banyuasin, Dr Askolani, dalam pidatonya menegaskan bahwa visi ini bukan mimpi, melainkan realitas yang sedang dibangun melalui kolaborasi strategis antara pemerintah daerah, BUMN, dan investor global.

Lumbung Pangan yang Tetap Dijaga

Sebelum melangkah ke masa depan, Banyuasin tetap bangga dengan fondasinya. Sebagai penghasil padi, karet, dan kelapa sawit dan kelapa terbesar di Sumatera Selatan, ketahanan pangan daerah ini telah berkontribusi signifikan terhadap stabilitas nasional. “Identitas kita sebagai lumbung pangan tidak akan hilang. Justru, hasil bumi inilah yang menjadi bahan baku utama bagi revolusi energi hijau kami,” jelas Bupati.

Kelapa yang selama ini hanya dijual sebagai komoditas biasa, kini diolah menjadi feedstock (bahan baku) untuk produksi Bio-Avtur. Ini adalah contoh nyata ekonomi sirkular di mana limbah menjadi emas baru.

Terobosan Bio-Avtur: Sejarah Baru Penerbangan Global

Puncak dari perayaan HUT ke-24 ini adalah komitmen operasionalisasi kilang bio-refinery di kawasan industri Tanjung Carat. Proyek ini merupakan hasil kerja sama dengan , yang bertujuan memproduksi Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF) dari minyak nabati lokal.

“Bayangkan, pesawat-pesawat yang terbang dari bandara internasional di seluruh dunia, sebagian bahan bakarnya berasal dari kelapa Ini akan menjadikan Banyuasin sebagai pionir dalam dekarbonisasi sektor penerbangan global,” ujar Wakil Bupati Banyuasin, Netta Indian, S.P., yang turut mengawal proyek strategis ini.

Produksi Bio-Avtur ini diharapkan dapat:

1. Meningkatkan nilai jual kelapa. Kelapa yang selama ini hanya dijual sebagai komoditas biasa, kini diolah menjadi feedstock (bahan baku) untuk produksi Bio-Avtur

2. Menarik Investasi Hijau: Membuka peluang dana investasi global (green funds) yang fokus pada ESG (Environmental, Social, and Governance).

3. Menciptakan Lapangan Kerja Berkualitas: Membutuhkan tenaga ahli teknik, kimia, dan logistik, sehingga meningkatkan kualitas SDM lokal.

 

Infrastruktur Pendukung: Pelabuhan Tanjung Carat

Transformasi ini didukung oleh pembangunan Pelabuhan Internasional Tanjung Carat yang sedang bergas. Pelabuhan ini akan menjadi pintu gerbang ekspor Bio-Avtur ke pasar Eropa dan Asia, sekaligus impor teknologi pengolahan terkini. Sinergi antara kawasan industri, pelabuhan, dan jalan tol akses menciptakan ekosistem industri yang efisien.

 

Tantangan dan Harapan

Meski optimis, pemerintah daerah menyadari tantangan besar, terutama dalam memastikan standar keberlanjutan (sustainability certification) agar produk Bio-Avtur Banyuasin diterima di pasar global yang ketat. Selain itu, pemberdayaan petani kecil agar terlibat dalam rantai pasok bahan baku menjadi prioritas agar manfaat ekonomi terasa hingga ke desa.

 

“Di usia ke-24, Banyuasin ingin menunjukkan bahwa daerah agraris bisa menjadi daerah industri hijau yang canggih. Kami tidak memilih antara pangan atau energi; kami melakukan keduanya secara simultan dan saling menguatkan,” tutup Bupati Dr Askolani.

Perayaan HUT ke-24 Kabupaten Banyuasin tahun ini bukan sekadar pesta rakyat, melainkan deklarasi tekad untuk memimpin perubahan iklim global melalui inovasi lokal. Dari sawah di pedalaman Banyuasin, energi bersih akan menerbangkan dunia.

Hadir dalam upacara tersebut Wakil Bupati Banyuasin Netta Indian, SP Sekda Banyuasin Erwin Ibrahim, ST., MM., MBA IPU ASEAN Eng Ketua TP-PKK Banyuasin Nabila Askolani Putri, Ketua DWP Banyuasin Marisa Utami Erwin Ibrahim, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), anggota DPRD, para Sekretaris Daerah, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tokoh masyarakat, tokoh agama, serta ratusan peserta yang terdiri dari ASN, TNI, Polri, dan pelajar.

Penulis: Deni Arianto Editor: Deni Arianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *