OI  

“Diam Tidak Selalu Emas”, Pertamina Kampanyekan Respectful Workplace untuk Ciptakan Lingkungan Kerja Inklusif

OGAN ILIR, MERAHPUTIHNEWS.CO.ID – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) atau Subholding Upstream (SHU) Pertamina kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan lingkungan kerja yang aman, inklusif, dan setara. Komitmen ini diwujudkan melalui kampanye Respectful Workplace (RWP) atau lingkungan kerja saling menghargai yang diinisiasi oleh Pertiwi Subholding Upstream.

Sebagai bagian dari rangkaian kampanye tersebut, SHU Pertamina menyelenggarakan diskusi interaktif bertajuk “Behind the Silence: Mendengar untuk Paham, Bergerak untuk Pulih”. Acara yang dilaksanakan secara hybrid di Pertamina EP Prabumulih ini dihadiri oleh manajemen, pekerja, serta mitra kerja dari PEP Zona 4.

Diskusi ini menghadirkan tiga pembicara utama, yakni Psikiater dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, Senior Manager Pendopo Field Hermansyah, dan Senior Manager Ramba Field Hanif Setiawan. Acara dipandu oleh Head of Legal Counsel Zona 4, Ari Rachmadi.

Direktur Manajemen Risiko yang juga menjabat sebagai Ketua Pertiwi Subholding Upstream, Mery Luciawaty, menekankan bahwa menciptakan lingkungan kerja yang aman adalah tanggung jawab bersama. Menurutnya, RWP bukan sekadar kepatuhan administratif terhadap kebijakan perusahaan.

“Respectful Workplace ini bukan hanya tentang kepatuhan terhadap kebijakan yang dibuat oleh perusahaan dan dikawal dalam beberapa waktu, tapi juga bagaimana kita membangun budaya saling menghargai, saling peduli, dan menciptakan ruang nyaman bagi setiap individu untuk berkembang,” ujar Mery dalam keterangan tertulisnya, Kamis (11/6/2026).

Sementara itu, General Manager PT Pertamina EP Zona 4, Djudjuwanto, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menyamakan lingkungan kerja yang aman dengan budaya keselamatan (safety culture) yang selama ini menjadi prioritas di industri hulu migas.

“Di industri hulu migas, satu suara yang tidak didengar ini bisa berarti satu risiko yang terlewat. Dan tentunya satu orang yang takut berbicara ini bisa berarti satu peluang perbaikan yang hilang,” tegas Djudjuwanto.

Dalam sesi diskusi, dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ, penulis buku “Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring”, menyoroti pentingnya interaksi dan bercerita bagi kesehatan mental manusia. Ia指出 bahwa banyak individu memilih memendam masalah karena takut dianggap berlebihan atau dinilai negatif oleh lingkungan sekitarnya.

Kondisi diam atau silent treatment ini, menurut Andreas, dapat berdampak buruk pada kesehatan mental maupun kualitas hubungan antarrekan kerja. Oleh karena itu, ia mendorong seluruh insan Pertamina untuk berani bersuara dan peduli terhadap sesama.

“Berceritalah. Jangan pernah merasa takut, jangan pernah merasa, ‘Aduh aku lebay kalau cerita.’ Ada anggapan secara medis ya, lebih baik lebay daripada abai,” ujar Andreas memberikan motivasi kepada para peserta.

Selain pandangan medis, Senior Manager PEP Pendopo Field, Hermansyah, dan Senior Manager PEP Ramba Field, Hanif Setiawan, juga berbagi pengalaman mengenai tantangan dan komitmen mereka dalam menerapkan prinsip respectful workplace di wilayah kerja masing-masing.

Antusiasme peserta terlihat jelas selama jalannya diskusi, menunjukkan kesadaran tinggi dari seluruh elemen Pertamina EP Zona 4 untuk bersama-sama mewujudkan tempat kerja yang lebih manusiawi, terbuka, dan suportif.

Penulis: AgEditor: Deni Arianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *