Komentar Nirempati, Buah dari Kapitalisasi

Oleh : Irohima

“ 8 jam belum dapat ruangan. Ga mau spill Rs-nya, soalnya gue pakai BPJS.”

Sebuah cuitan singkat dan sederhana yang ditulis oleh Yurizal di platform Threads, 22 Juli 2026, dengan harapan bisa didengar, nyatanya berubah menjadi kenyataan yang menyakitkan. Unggahan Yurizal yang tidak menyebutkan nama rumah sakit, murni menyuarakan keresahannya sebagai seorang pasien yang berharap segera mendapat penanganan, namun sayang, alih-alih memperoleh dukungan, unggahannya justru ramai dibanjiri komentar nirempati dari para akun yang kemudian diketahui sebagai tenaga kesehatan.

Ramainya kasus Yurizal, membuat Kementerian Kesehatan turut membuka suara, menurut Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes Azhar Jaya, lamanya waktu tunggu seperti yang dialami Yuirzal, bukan karena pasien tidak mendapat penanganan di IGD, melainkan karena membutuhkan perawatan di High Care Unit (HCU), sementara kapasitas ruang tersebut terbatas. RSCM (Rumah sakit Cipto Mangunkusumo) merupakan rumah sakit rujukan nasional, hingga tingkat keterisian fasilitas perawatan cukup tinggi, dan menurut Azhar, kondisi ini mempengaruhi pemindahan pasien dari IGD ke ruang perawatan yang dibutuhkan ( CNN Indonesia, 08/08/2026).

Dokter dan nakes dikenal sebagai orang yang berdedikasi tinggi dalam pelayanan kesehatan masyarakat, dalam etika profesi, mereka tentu dituntut memberikan pelayanan terbaik dan bersikap penuh empati karena pekerjaan mereka yang menyangkut keselamatan orang banyak. Komentar pedas dan mencibir pasien BPJS di unggahan Yurizal, menunjukkan sikap nirempati yang sangat kita sayangkan keluar dari lisan orang yang seharusnya memberi dukungan.

Yurizal bukanlah orang pertama yang menunggu lama untuk mendapatkan ruang perawatan. Pasien yang terlalu lama menunggu bahkan terkadang terpaksa pulang karena tak ada kamar sudah sering kita dengar, hal ini membuktikan bahwa sistem kesehatan kita nirempati dan diskriminatif. Seperti yang kita tahu, BPJS merupakan sebuah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang dibentuk oleh Pemerintah untuk memberikan jaminan sosial bagi seluruh warga negara. Sistem BPJS kesehatan menggunakan mekanisme pelayanan berjenjang mulai dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama hingga rumah sakit rujukan serta menerpakan transisi kelas rawat inap menuju kelas rawat inap standar. BPJS kesehatan juga membagi kelas rawat inap ke dalam kelas 1,2,dan 3 yang menentukan besaran iuran bulanan serta fasilitas kamar rawat inap di rumah sakit. Mekanisme iuran inilah yang sering dinilai pengamat sebagai bentuk pelepasan tanggung jawab negara terhadap pemenuhan kebutuhan rakyat akan kesehatan.

Jaminan kesehatan yang seharusnya ditanggung negara secara merata, dalam sistem sekuler kapitalis justru dibebankan pada pasien. Fasilitas dan kecepatan pelayanan kesehatan tergantung pada kemampuan bayar pasien. Namun inilah kapitalisme, dalam sistem ini, kesehatan diposisikan sebagai komoditas dan rakyat adalah konsumen. Fungsi utama negara sebagai pengurus rakyat bergeser menjadi sekedar pengelola atau penarik dana.

Komentar mencibir dokter dan nakes di unggahan Yurizal merupakan karakter dari kepribadian yang cacat/nirempati yang lahir dari pola pikir dan pola sikap yang tidak islami. Dan ini cukup membuktikan bahwa sistem pendidikan hari ini telah gagal membentuk kepribadian yang mulia. Sistem pendidikan ala kapitalis yang hanya berorientasi materi tanpa menyertakan pendidikan agama mungkin melahirkan individu yang cerdas secara akademik namun minim akhlak. Menjadi tenaga kesehatan bukan hanya tentang ilmu pengetahuan dan kemampuan medis. Tapi lebih dari itu, profesi tenaga kesehatan akan menuntut adanya empati, kepedulian dan penghormatan terhadap martabat si pasien.

Sistem kesehatan kita yang dilandaskan pada kapitalisme sekuler jelas merugikan rakyat. membedakan pelayanan berdasarkan kemampuan finansial pasien adalah tidak manusiawi dan tidak etis, mengingat slogan tenaga kesehatan adalah berfokus pada semangat melayani, dedikasi, empati, dan keselamatan pasien dalam menjalankan tugas kemanusiaan. Sistem kesehatan ala kapitalis telah terbukti melahirkan pelayanan nirempati. Karena itu penting adanya perubahan paradigma sistem kesehatan dari kapitalisme menjadi paradigma Islam.

Dalam Islam, kesehatan merupakan hak dasar setiap individu yang akan dijamin oleh negara secara gratis, merata dan tanpa diskriminasi. Tanggung jawab dalam penyediaan fasilitas kesehatan, sarana dan prasarana termasuk di dalamnya tenaga kesehatan sepenuhnya akan diatur negara sebagai bentuk periayahan terhadap umat. Terkait masalah pembiayaan, akan diambil dari baitulmal, yang dananya bersumber dari pengelolaan harta kepemilikan umum seperti tambang, hutan, dan sumber daya alam lainnya.

Peran negara dalam Islam sebagai raa’in akan sangat terlihat menonjol. Di samping menyediakan sarana dan prasarana kesehatan, membangun infrastruktur terkait kesehatan sebagai pendukung , negara juga akan menerapkan kurikulum sistem pendidikan Islam yang berlandaskan pada akidah Islam, hingga individu yang lahir kelak tak hanya cerdas secara intelektual, namun juga berkepribadian Islam yang mulia.

Kita tentu masih ingat pelayanan kesehatan yang pernah terjadi di masa kekhilafan Abbasiyah, terutama di bawah kepemimpinan Khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M). Beliau memerintahkan pembangunan rumah sakit (Bimaristan) besar pertama di Baghdad yang menjadi standar pelayanan medis, lengkap dengan apotek dan ruang perawatan higienis. Rumah sakit ini dibangun untuk merawat semua warga tanpa memandang status sosial, seluruh pelayanan kesehatan juga diberikan secara percuma tanpa dipungut biaya. Di era Abbasiyah juga obat-obatan dan ilmu farmasi berkembang pesat. Tokoh kedokteran hebat pun lahir di era ini, seperti Ar-Razi dan Ibnu Sina yang hingga kini menjadi rujukan utama ilmu medis dunia.

Begitu agung dan mulia kehidupan dalam Islam kala itu, dan semua karena umat masih berporos pada syariat sebagai tuntunan hidup. Dari fakta tersebut, kita tak bisa lagi menyangkal bahwa tak ada lagi sistem yang mampu menghadirkan pelayanan sebaik sistem Islam, karena itu mari bersegera kembali pada Islam, sebagai satu-satunya solusi seluruh problematika manusia termasuk kesehatan.

Penulis: Irohima Editor: Deni Arianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *