BENGKULU, MERAHPUTIHNEWS.CO.ID – Viralnya pernyataan keras di media sosial menyeret nama pemilik Yayasan Putri Bungsu Asiah, Wehelmi Ade Tarigan, ke dalam pusaran polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dampaknya tak main-main, satu unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bengkulu dilaporkan diberhentikan operasionalnya per 28 maret 2026.
Kontroversi bermula dari unggahan video di akun TikTok wanitabaja0, di mana Wehelmi Ade Tarigan yang merupakan Ketua Yayasan Putri Bungsu Asiah menyampaikan klarifikasi sekaligus kritik tajam terhadap komentar netizen yang menuding program Makan Bergizi Gratis sebagai proyek elite pemerintahan.
Dalam video tersebut, ia menyampaikan pernyataan bernada keras:
“Saya kasih tahu ya dengan kalian yang suka suudzon, berhati busuk, dengki. Kalian mengatakan program Pak Prabowo Subianto makan bergizi gratis ini proyek para petinggi. Apa kalian tidak punya otak, tidak berpikir? Para petani sekarang kegirangan, mereka bersiap menambah lahan agar sayurnya semakin banyak untuk memenuhi kebutuhan program ini.”
Menurutnya, program MBG justru membuka peluang ekonomi kerakyatan. Ia menilai sektor pertanian dan peternakan—terutama telur dan ayam—akan terdorong berkembang karena meningkatnya kebutuhan bahan pangan untuk program tersebut.
Namun pernyataan yang viral itu justru memantik reaksi luas di masyarakat dan media sosial. Sorotan publik pun mengarah langsung kepada yayasan yang dipimpinnya.
Tak lama setelah video tersebut ramai diperbincangkan, satu unit SPPG di kawasan Singaran Pati, Kota Bengkulu, yang berada di bawah naungan Yayasan Putri Bungsu Asiah, dilaporkan dihentikan operasionalnya.
Seorang sumber yang enggan disebutkan namanya menyebutkan bahwa penghentian tersebut terjadi pada salah satu dari total 10 unit SPPG yang dikelola yayasan tersebut di Bengkulu.
“Dari total 10 SPPG, satu sudah diberhentikan operasionalnya per hari ini,” ujar sumber tersebut.
Secara keseluruhan, jaringan SPPG milik Yayasan Putri Bungsu Asiah tersebar di berbagai wilayah Provinsi Bengkulu.
Di Kota Bengkulu, unit SPPG berada di:
1. Singaran Pati
2. Jembatan Kecil
3. Teluk Segara
4. Berkas
5. Selebar (Pagar Dewa 2)
6. Ratu Samban
7. Padang Jati
8. Muara Bangka Hulu
9. Pematang Gubernur
Sementara di Kabupaten Bengkulu Selatan, SPPG tersebar di:
1. Kedurang (Lawang Agung)
2. Manna Ketaping
3. Manna Kayu Kunyit
Sedangkan di Kabupaten Kepahiang, unit SPPG berada di Taba Teret.
Penutupan satu unit SPPG ini menjadi perhatian publik karena terjadi di tengah meningkatnya pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG di daerah. Publik kini menanti penjelasan resmi terkait alasan penghentian operasional tersebut, sekaligus menyoroti transparansi pengelolaan jaringan SPPG yang dikelola oleh Yayasan Putri Bungsu Asiah.
Hingga kini, perkembangan kasus tersebut masih menjadi bahan pembicaraan masyarakat Bengkulu, terutama terkait keberlanjutan operasional unit-unit SPPG lainnya serta dampaknya terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di daerah.
(Ipulpekal)













