Oleh : Irohima
Persoalan yang mendera generasi, semakin hari semakin ngeri. Generasi muda yang tak hanya penuh dengan potensi tapi juga kerap diwarnai oleh kontroversi kini harus lebih berhati-hati. Tak hanya mereka, tapi juga kita kembali mengelus dada saat melihat fakta bahwa penyakit HIV kini tengah menjangkiti sebagian besar dari mereka.
Belakangan ini di media sosial telah beredar informasi terkait data peningkatan kasus HIV di beberapa wilayah. Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan , dr. Andi Saguni menyatakan bahwa kenaikan jumlah kasus yang ditemukan setiap tahun berjalan seiring dengan meluasnya layanan tes HIV di berbagai fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik, hingga layanan berbasis komunitas. Ini bermakna, peningkatan angka temuan kasus tidak dapat diartikan secara langsung sebagai peningkatan penularan tapi meningkatnya efektifitas upaya deteksi dini yang dilakukan pemerintah dan mitra ( AntaraJatim, 26/07/2026).
Salah satu wilayah yang mengalami lonjakan kasus HIV yang mengejutkan adalah Kabupaten Sidoarjo. Sejak tahun 2001 hingga Juni 2026, Pemkab Sidoarjo mencatat sebanyak 7.230 orang hidup dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Dari jumlah tersebut, 522 orang merupakan pelajar dari jenjang PAUD hingga SMA (kumparanNews, 24/07/2026). Sementara di Palembang sendiri, berdasarkan Data Dinkes Kota Palembang, dari Januari-April 2026 tercatat 194 kasus HIV/AIDS baru. Rinciannya 173 kasus HIV dan 21 kasus AIDS, dan kelompok yang paling banyak terkena penyakit HIV adalah kelompok homoseksual.
Menyoroti peningkatan kasus penyakit HIV ini, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak menilai bahwa penting untuk memberikan pendidikan seksual sejak dini, guna mencegah perilaku seksual berisiko yang dapat berujung pada penularan HIV. Senada dengan Jawa Timur, Pemerintah Kota Palembang juga fokus pada edukasi dan pencegahan khususnya pada kelompok homoseksual.
HIV adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh dengan cara menyerang sel darah putih (sel CD4). Virus ini akan melemahkan daya tahan tubuh hingga penderita rentan terserang infeksi dan dapat berlanjut pada level yang lebih parah yakni AIDS ( Acquired Immunodeficiency Syndrome). HIV dapat menular lewat cairan tubuh seperti darah, sperma, ASI, dan cairan vagina, selain itu HIV juga dapat menular melalui hubungan seksual, jarum suntik. Gejala umum yang dirasakan penderita adalah demam, sakit kepala, nyeri otot, tenggorokan sakit, dan pembengkakan kelenjar getah bening,
Tingginya kasus HIV pada remaja saat ini, mencerminkan rusaknya sistem sosial akibat penerapan aturan hidup sekuler kapitalisme, yang notabene menjauhkan ajaran agama dari kehidupan. sekuler kapitalisme yang berlandaskan kebebasan dalam setiap aspek termasuk dalam berperilaku, telah menyebabkan berbagai kerusakan. Pergaulan bebas yang kini makin marak terjadi di masyarakat, khususnya antara laki-laki dan perempuan yang tak diberi batas, sejatinya merupakan salah satu pemicu terjadinya kasus HIV yang hingga kini belum ada obat atau vaksin yang bisa membasmi HIV.
Cara pandang dalam menyikapi persoalan HIV juga terlihat sangat kental dengan paradigma sekulerisme liberal, yang sama sekali tidak menyentuh akar persoalan dan hanya sebatas kuratif (mengobati) saja, hingga solusi yang lahir pun tidak fundamental (mendasar). Narasi bahwa meningkatnya kasus HIV yang tidak bisa dimaknai meningkatnya kasus penularan melainkan karena meningkatnya efektifittas deteksi dini kasus juga merupakan bentuk kegagalan dalam memahami persoalan. Alhasil, kesalahan dalam membaca masalah dan mendefinisikan akar masalah menyebabkan solusi yang lahir menjadi problematik, serta tidak solutif. Seperti halnya solusi edukasi seksual dan safe sex dengan penggunaan kondom yang dilontarkan, solusi seperti ini lebih fokus pada dampak kesehatan medis seperti pencegahan penyakit menular atau mencegah kehamilan yang tak diinginkan.
Islam memiliki pandangan berbeda dengan sekuler kapitalisme liberal terkait HIV, Islam akan melakukan pencegahan dengan membangun sistem pergaulan sosial yang preventif melalui Sistem Pergaulan Islam. Sistem Islam akan mengatur tata cara interaksi antara sesama manusia , baik antara laki-laki dan perempuan maupun dengan sesama jenis, yang bertujuan menjaga kehormatan, kesucian, dan kemuliaan, prinsip utamanya meliputi kewajiban menutup aurat, larangan berdua-duaan (khalwat) bagi yang bukan mahram, larangan berikhtilat (campur baur), serta anjuran ghadhul bashar yakni menundukkan pandangan.
Melalui aturan menjaga pandangan, larangan mendekati zina, memakai pakaian syar’i, mengatur pernikahan serta menetapkan sanksi/ uqubat bagi pelaku pelanggaran, masyarakat akan terkondisikan memiliki kesehatan yang baik dan jauh dari kerusakan. Kejahatan seksual, seperti pemerkosaan, pelecehan dan lain sebagainya akan bisa diatasi melalui sanksi tegas dan menjerakan.
Negara dalam Islam juga akan menerapkan sistem pendidikan Islam yang akan mengintegrasikan materi kesehatan reproduksi dengan ilmu fiqih pergaulan dan akhlak. Para pelajar akan dibina agar memahami bahwa kesehatan organ reproduksi amatlah penting dan merupakan bagian dari ibadah dan amanah. Keimanan dan ketakwaan akan dihujamkan dalam jiwa-jiwa mereka supaya mereka memiliki kesadaran bahwa segala amal perbuatan, kelak akan dihisab.
Islam akan menjadikan keluarga, lingkungan masyarakat dan negara sebagai pilar dalam penjagaan dan perlindungan terhadap generasi. Keluarga sebagai akan menjadi pilar dan benteng pertahanan pertama untuk menjaga generasi melalui penanaman nilai moral, pengawasan pergaulan, serta penerapan fungsi edukasi agama yang kokoh. Selanjutnya adalah masyarakat, yang akan berperan kolektif melalui kontrol sosial yang aktif, penegakan nilai moral, serta fungsi preventif dan suportif demi melindungi generasi. Dan yang tak kalah pentingnya adalah negara yang memiliki peran vital sebagai pilar utama pelindung generasi. Negara berperan sebagai pilar struktural tertinggi yang akan menutup akar penyebaran HIV melalui penegakan hukum preventif, sanksi yang tegas serta penyediaan layanan kesehatan dan edukasi moral yang menyeluruh.
Ketiga pilar ini akan bersinergi dalam mewujudkan generasi yang aman dari ancaman HIV dan pergaulan bebas. Jadi tak ada alasan lagi bagi kita untuk menunda penerapan Islam sebagai solusi yang hakiki, karena kerusakan tak menunggu ‘nanti’.
Wallahualam bis shawab













